Maaf dan terima kasih….

September 22, 2007 by zankies

Siang hari yang penuh kejutan. Kaget…seneng bukan main….wahhhhh, susah diungkapin dengan dengan kata2. Barusan aku balik dari warung biasa aku nongkrong. Pas balik ke kantor ( kantor = kosan) tiba2 ada telp, aku angkat….dan aku kaget, ternyata yang telp adalah ibuku. Mungkin orang mikir, knp harus kaget terima telp dari ibu sendiri. Emang sih, aku beberapa minggu ini lagi ada selisih pendapat ama ibu yang bikin hubungan aku ama ibu jadi ga kaya biasanya (sedikit aneh). Ngobrol dech jadinya (pastinya minta maaf dulu), ngomongin masalah beda pendapat itu…bla bla bla….dan bla bla bla. Di akhir2 pembicaraan, aku nanya ke ibu,”Ko tiba2 ibu telp?”. Yang bikin kaget lagi ternyata tadi ibu ditelp ama seseorang, dia jelasin semuanya ke ibu tentang prinsip yang aku pegang dan kenapa aku bertahan dengan prinsip itu. Bingung dan aneh rasanya, ada orang yang jelasin ke ibu tentang masalahku dan prinsip aku itu. Padahal aku cuman cerita masalah itu ke 2 orang. Eh bener ternyata yang jelasin ke ibu tuch salah satu dari orang itu…..

Makasih banget ya, ga tahu gimana aku harus berterima kasih ke kamu. Aku ga kepikiran kamu bakalan sampe telp ibu aku dan jelasin semuanya. Memang sih aku tadinya cukup beban dengan masalah iu. Tapi setelah telp dari ibu tadi, plong rasanya…..Huahhhh….Sekali lgi makasih ya, padahal aku sering mikir kamu yang ngga2…maaf ya…he3x.

Kisah Tak Sempurna

September 18, 2007 by zankies

Kesendirian kadang membuat aku termenung dan berpikiran jauh….mengenang wajah, senyum, mata, segala sesuatu yang indah pada dirinya…ingin rasanya hati ini mengulang semua itu. Tapi….tidak semua kisah yang aku jalani sempurna seperti impianku. Ada waktu datang ada juga waktu pergi, ada waktu bertemu ada waktu berpisah, ada waktu bersama ada waktu sendiri….disaat dia pergi, hati berharap untuk dia kembali. Tak tahu aku harus berkata apa, kenangan yang indah tinggal kenangan…Semoga kisah yang tak sempurna ini menjadi kisah terindah dalam hidupku….

Semoga…

September 8, 2007 by zankies

merenungkanmu kini menggugah haruku
berbagai kenangan berganti masa yang t’lah lalu
sebenarnya ku ingin menggali hasrat untuk kembali

melukiskanmu lagi didalam benakku
perlahan terbayang pasti garis wajahmu
kehangatan cinta kasih dapat kubaca jelas disitu

adakah waktu mendewasakan kita
kuharap masih ada hati bicara
mungkinkah saja terurai satu persatu
pertikaian yang dulu bagai pintaku…..
semoga…

lihatlah ku disini memendam rindu
setiap kuberseru yang kusebut hanya namamu

adakah waktu mendewasakan kita
kuharap masih ada hati bicara
mungkinkah saja terurai satu persatu
pertikaian yang dulu bagai pintaku
sebenarnya kuingin menggali hasrat kembali
kuharap agar kau mengerti…
semoga….

semoga..

The Messengers (Mess)

September 7, 2007 by zankies

Tadi sore aku bareng2 ama orang sekantor nonton film judulnya “The Messengers”. Film ini dikategorikan sebagai film Horor…Komentar aku tentang film ini :

1. Secara keseluruhan film ini dari segi cerita sich biasa aja. Kenapa biasa? dari awal ampe akhir ceritanya simple, tempat kejadian hanya disatu tempat ya dirumah itu2 juga.
2. Adegan-adegan yang bikin kaget itu yang ga biasa…bagi orang yang jantungan ya….dijagain aja klo nnton film in, he3x

Karena tadi nntonya rame2 ama orang kantor, jadi adegan2 yang seharusnya menegangkan..eh malah jadi adegan ketawa ketiwi… abis banyakan komentarnya sich …but it’s nice. Klo lagi ada adegan menegangkan malah disambung2in ke cerita lain..jadi kocak dech…

Yang parah lagi, pas lagi ada adegan serem gitu…eh temen kantor malah bilang “yang jadi anaknya kok kaya adeknya si ntong ya” ( ntong sinetron itu loh)…spontan aku ketawa…Jadi ga serem dech.

Tapi seru juga nnton rame2 bareng orang sekantor….biar lebih kekeluargaan…
the_messenger.jpg

Cinta Puccino

September 4, 2007 by zankies

Jam menunjukan pkl 22:00 WIB, aku baru balik nonton film yang judulnya “Cinta Puccino”. Tadi abis dari jakarta, nyampe bogor udah sore malah bisa dibilang malem jadi yahhh sekalian aja mampir bioskop..nonton dech. Lagian nih film udah aku tungguin banget, walaupun sebelumnya aku udah baca novelnya. Kata orang-orang yang udah nnton sih jelek, tapi menurut aku..justru nih film bagus banget (dari segi ceritanya ya). Ngena banget kali ya (pengalaman pribadi kali)..hehehehehe… Buat yang udah pernah baca novelnya mungkin udah pada tahu kan cerita keseluruhanya…Jadi ya aku ga perlu cerita lagi. Tapi ada beberapa hal yang bisa aku dapet dari cerita ini :

Pertama : Pengorbanan dan perjuangan cwok buat seorang cwek tuch adalah sesuatu yang penting banget, bukan penting lagi..malahan sesuatu yang ga bisa terbayar dengan apapun.

Cwek akan lebih memandang cwok yang penuh perjuangan dan bisa berkorban untuk cweknya daripada cwok yang penuh kepasrahan, apapun alasanya. (kenapa gw ga bisa kaya gini).

Dalam kehidupan pribadi aku, jarang aku bisa ngelakuin hal diatas untuk seseorang yang aku anggap spesial, aku tahu mungkin inilah yang membuat dia ga yakin dan kadang pesimis dengan hubungan yang pernah kita jalin. Dan kini aku baru tahu, apa artinya pengorbanan dan perjuangan buat seorang cwek. huff….telat ya…lebih baik telat daripada ga sama sekali. Buat seseorang yang spesial, maafin aku ya…aku harus belajar lebih dulu agar aku bisa memahami apa yang kamu mau.

Kedua : sebelum janur kuning melengkung alias nikah ma orang, masih ada peluang buat cwok buat dapetin cwek yang di cintainya.

Itu semua tergantung seberapa besar perjuanganmu untuk dapetin si dia. Segala sesuatu masih mungkin apa adanya, ga ada yang ga mungkin.

Dalam film itu dikisahkan, Rahmi dan Raka yang tinggal 1 bulan lagi nikah dengan segala persiapan dan tetekbengeknya yang sudah siap…tapi apa yang terjadi?, dengan perjuangan seorang Nimo untuk mendapatkan cinta seorang Rahmi yang sudah lama dia harapkan akhirnya dia dapatkan juga semua itu.(walaupun cuman skenario film tapi menurut aku itu masuk akal) Berjuanglah kau nak….he3x

Ketiga : Jangan pernah menyerah untuk dapetin seseorang yang kamu anggap “dialah yang terbaik untuk hidup saya”.

Dari awal ampe akhir menurut gw film ini bagus. Inilah film Indonesia yang pengen gw tonton lagi (walaupun baru nnton)..hehehehe. Satu dialog yang aku paling inget dari film ini adalah “Cemburu,calon istrinya ko malah ditinggalin”

cinta_puccino.jpg

Menata Ikhlas Meraih Bahagia

August 29, 2007 by zankies

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Sahabat, setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang bahagia, menikmati hidup ini tanpa merasa terbebani oleh berbagai masalah. dan hal ini hanya akan dirasakan orang yang sungguh-sungguh berupaya ikhlas, menjaga setiap amalnya, baik amal ibadah maupun amal shalih dalam kehidupan bermasyarakatnya, hanya bagi Allah.

Tidak terbersit keinginan untuk dipuji, dihargai, dihormati makhluk. Ringan saja ketika melakukan sesuatu, yang penting baginya adalah ridaha dan berkah Allah. Ia tahu bahwa tugasnya di dunia ini hanya dua, pertama luruskan niat selalu, hanya demi meraih cinta Allah, lalu selanjutnya ia harus menyempurnakan ikhtiar agar hasil yang diharapkan betul-betul optimal, terbaik yang dapat dipersembahkannya.

Sehingga ia tidak perduli dengan penghargaan orang lain, ia tetap bersemangat beramal shalih, baginya yang terpenting, apa yang dilakukannya mendapat ridha Allah. Rezeki baginya adalah ketika ia mampu berbuat meluruskan niat dan beramal dengan amal terbaik.

Untuk mencapai tingkatan ikhlas tertinggi, yaitu meraih ridha Allah. Menurut Imam Ali RA, ada beberapa level ikhlas, antara lain; pertama, ikhlasnya seseorang untuk meraih kebahagiaan duniawi. Ketika berdoa pun, ia berharap keinginan duniawi semata. Walaupun ini tingkatan terendah, namun lebih baik karena ia hanya meminta hanya kepada Allah saja.

Lalu, kedua, ikhlasnya seorang pedagang, ia berusaha ikhlas namun dengan menghitung-hitung pahala terlebih dahulu. Jika suatu amal banyak mendatangkan pahala, pasti ia semngat mengerjakannya. Berharap amal tersebut dapat menghapuskan dosa serta menguntungkan duniawinya.<

Ketiga, ikhlasnya seorang hamba sahaya, ia takut sekali dengan acaman Allah, sehingga ia berusaha ikhlas dalam berbuat, hanya demi Allah agar Allah tidak murka kepadanya.

Keempat, ikhlasnya orang yang berharap surga, balsan baik bagi Allah, sehingga amal yang dikerjakannya betul-betul diperuntukkan sebagai bekal hidup diakhirat kelak, agar ia meraih surga; balsan tertinggi dari Allah.

Tingkat terakhir, kelima, ikhlas tingkat tertinggi, ia pasrah dengan ketentuan Allah. baginya ia berbuat terbaik hanya demi keridhaan dan berharap cinta Allah. Ia hanya berkehendak dapat berjumpa Allah kelak, selain itu terserah Allah, ia tidak begitu peduli dengan balasan Allah. Cukup baginya cinta dan persuaan dengan Allah nanti. Subhanaallah, mudah-mudahan suatu saat kita kita dapat meraih tingkatan ikhlas tertinggi ini. Amiin.

Untuk menjadi seorang yang ikhlas pasti memerlukan latihan (riyadhah), berat memang pada walanya, namun jika sungguh-sungguh berupaya, pasti akan berbuah keikhlasan yang tiada bandingnya dengan kehidupan dunia ini.

Cobalah mulai berusaha melupakan setiap amal yang kita lakukan, seakan-akan kita tidak pernah melakukannya. Dan jangan membeda-bedakan amal besar atau amal kecil, semua amal sama saja, upayakan berbuat terbauik dalam amal apapun juga.

Lupakan pula penghargaan dan celaan orang lain, upayakan bersikap biasa-biasa saja dengan semua yang kita lakukan. serta jangan berharap balasan berbentuk pujian, materi atau penghargaan dari orang lain, bisa jadi balasan amal itu berupa pahala atau ridha Allah, bukankah hal itu lebih baik.

Marilah kita senantiasa menata keikhlasan hati, dengan mulai mencoba berlatih dalam setiap kesempatan amal. Dengan begitu, mudah-mudahan suatu saat bahagia teraih, dunia akhirat. Aamiin.

Kunci Membersihkan Hati

August 27, 2007 by zankies

KESUKSESAN dalam konsep manajemen qolbu adalah bagaimana kita secara konsisten dapat terus melakukan pembersihan hati di sepanjang kehidupan. Kita harus ingat bahwa faktor kunci keberhasilan agar kita bisa bertemu dengan Allah SWT adalah kebersihan hati atau qolbun saliim. Jadi, puncak kesuksesan bermuara pada kebersihan hati. Lalu, wahana pembersih hati adalah tekad (niat) yang kuat.

“Sesungguhnya amal perbuatan itu pasti mengandung niat dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya…” (H.R. Bukhari-Muslim).

Ya, kita tidak bisa meremehkan tekad atau kemauan karena ini ibarat generator yang menggerakkan aktivitas positif kita. Sebuah lampu mampu untuk menyala terus-menerus jika ada listrik yang mengalir. Listrik akan mengalir hanya jika generator dihidupkan. Jadi, kalau diumpamakan bahwa kita bisa saja punya kemampuan. Namun, kemampuan itu tidak akan berfungsi manakala tidak ada yang menggerakkannya.

Jadi, pada dasarnya kita sebenarnya mampu untuk salat tahajud dan saum Senin-Kamis. Namun, terkadang kita tidak punya tekad untuk melaksanakannya, kita tidak punya penggerak untuk itu. Kita sebenarnya mampu untuk mengubah diri kepada yang lebih baik, tetapi kita tidak punya tekad untuk itu.

Tekad adalah kunci pertama untuk menggerakkan sesuatu. Lalu, tekad juga menjadi kunci terciptanya sikap istiqomah dalam perilaku.

Setelah tekad, kunci kedua adalah “ilmu” memahami diri. Memahami dan mengenali diri ada ilmunya. Sebagai ilustrasi, jika saya harus mengadakan ceramah di Yogya, saya harus tahu berapa lama dan berapa panjang jarak menuju Yogya itu. Dengan pengetahuan saya terhadap seluk-beluk Yogya, saya akan bisa mengelola diri secara efektif. Misalnya, saya akan singgah di beberapa tempat atau saya membekali diri saya dengan buku dan laptop. Saya bisa membaca ketika di perjalanan ataupun menulis. Pendeknya, sesuatu yang berguna dapat saya lakukan. Demikian pula halnya untuk membersihkan hati dan memahami diri kita, akan berlangsung efektif jika kita benar-benar mengenal benar diri kita sampai yang sekecil-kecilnya.

Dengan demikian, seseorang bisa membersihkan hati apabila dia terus-menerus memperbaiki keadaan dirinya yang dirasakan memiliki banyak kekurangan. Ilmu memahami diri ini berbanding lurus dengan tekad. Semakin keras upaya-upaya yang dilakukan seseorang untuk menyelusuri siapa dirinya, tentulah tekad untuk memperbaiki diri semakin besar pula. Lalu, semakin besar tekad tersebut maka semakin besar pula kadar ilmu pemahaman diri yang dimiliki.

Ada sebuah fenomena bahwa kini banyak orang yang lebih suka menyibukkan diri untuk memahami sesuatu di luar dirinya. Mereka kurang berkonsentrasi untuk memahami dirinya sendiri. Seberapa banyak sebenarnya kita menuntut ilmu –misalnya menghadiri pengajian, mendengarkan radio, melihat acara-acara di televisi, dan bersekolah menuntut ilmu yang tinggi– yang kemudian berdampak pada penguatan tekad kita untuk memahami diri kita? Apakah kita benar-benar, setiap hari, bersedia memahami diri kita? Inilah pentingnya ilmu mengenali diri. Dari sinilah kemudian lahir apa yang menjadi tahapan ketiga upaya membersihkan hati.

Kunci ketiga adalah rajin mengevaluasi diri. Dalam konsep manajemen waktu ada istilah pemetaan dan pembagian waktu. Jika kita hidup dalam 24 jam sehari, tentu kita bisa memetakan waktu tiap jam, tiap menit, bahkan tiap detiknya. Nah, dari pemetaan tersebut, apakah selama ini kita sudah menyediakan waktu untuk mengevaluasi diri?

Sesungguhnya Allah telah mengingatkan manusia betapa pentingnya waktu. Manusia yang profesional adalah manusia yang mampu mengelola waktunya secara efektif. Manusia yang bernilai adalah manusia yang mampu menyediakan waktunya untuk mengevaluasi diri dan saling menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran. “Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran” (Q.S. al-Ashr: 1-3).

Sehari-hari kita menghadapi berbagai sifat dan watak orang, termasuk merasakan watak diri kita sendiri. Jika orang lain membentak ataupun menegur kita yang sombong, otak kita akan merespons apa itu sombong dan apa yang menyebabkan saya sombong. Lalu, hati kita pun diajak berdialog, “Benarkah saya sombong?” Proses itu terjadi karena kita sudah mengenal kriteria (ilmu) kesombongan. Dengan kriteria itulah kita mengetahui hakikat sombong dan apa akibatnya. Dari situ kita lalu berpikir, “Wah, benar saya ini sombong” atau “Ah, rasanya saya biasa saja, tidak sombong”. Proses berpikir ini biasa disebut tafakur. Jika kita sombong, apakah bisa kita menahan kesombongan itu? Jika kita merasa tidak sombong, benarkah apa yang kita lakukan bukan meru-pakan kesombongan?

Nah, lebih jelasnya bisa saya contohkan seperti ini. Dahulu saya tidak tahu mengapa di wajah saya tumbuh jerawat. Lantaran saya tidak mengerti ilmu perjerawatan ini, saya pun suka mengorek-ngorek jerawat. Akhirnya, jerawat malah timbul banyak. Dan kadang-kadang karena ketidaktahuan saya tentangnya, muncullah infeksi di wajah saya. Namun, setelah saya tahu ilmu perjerawatan, akhirnya saya malah dapat membersihkan jerawat saya. Misalnya saja, jerawat itu akan muncul apabila wajah saya kotor, dan sebagainya. Saya lalu mampu mengendalikan wajah saya dan akhirnya wajah saya bersih dari jerawat.

Jadi, sama halnya dengan upaya memahami diri kita dapat menjelma menjadi upaya pengendalian diri. Kita bisa terus membersihkan hati jika tahu ilmunya. Kita akan bisa mengukur diri kita sombong atau tidak dengan ciri-ciri yang kita kenali.

Lalu kunci keempat ialah adalah upaya membuka diri terhadap kritik yang datang dari luar diri kita. Di sinilah seseorang bisa mempraktikkan kebesaran hati yang dimilikinya. Ia akan dengan lapang dada menerima ketidaksenangan dan keraguan orang lain terhadap dirinya.

Cara efektif untuk menjadi besar hati dan melapangkan dada adalah dengan menerima atau mencari tahu kelemahan diri dari orang-orang terdekat kita, misalnya orang tua, kakak, adik, serta istri atau suami. Bahkan, bisa pula meminta penilaian dari anak-anak kita. Apabila di dalam keluarga ini kemudian berhasil –dalam arti evaluasi diri itu berlangsung secara kontinu dan konsisten– insya Allah, kita akan dapat mengendalikan diri kita lantaran ada orang-orang di sekitar kita yang mengawasi secara nyata perkembangan diri kita. Alhasil, akan tercipta suatu pengondisian agar kita selalu menjaga perilaku karena ada yang mengawasi. Bukankah hal ini sangat menguntungkan bagi pengembangan diri kita?

Bukankah kita sangat diuntungkan dengan adanya pribadi-pribadi yang secara ikhlas mengontrol sikap kita? Mengapa kita harus khawatir dan takut dikritik? Bukankah kritik pedas yang ditujukan kepada kita sama halnya dengan rezeki yang tidak disangka-sangka? Mengapa rezeki? Karena kita sudah dibantu oleh orang-orang di sekitar kita (mungkin termasuk orang-orang yang membenci kita) untuk senantiasa memberikan masukan kepada kita dan masukan itu sangat berharga dalam bagi ikhtiar perbaikan diri.

Terakhir, kunci kelima yaitu becermin pada perilaku orang lain. Kita tidak mungkin membersihkan kotoran ataupun kumis dan janggut di wajah jika tidak menggunakan cermin. Cermin memberikan kesempatan bagi kita untuk melihat secara jelas apa yang sebelumnya tidak terlihat.

Dalam kehidupan dan perilaku sehari-hari, cermin adalah orang-orang di sekitar kita, baik yang kita kenal akrab maupun yang belum kita kenal. Allah menciptakan berbagai orang dengan berbagai sifat sebagai cermin bagi kita. Subhanallah!

Seorang pedagang di pasar mungkin bisa menyaksikan puluhan, ratusan, bahkan ribuan perilaku orang yang menghampiri ataupun hanya lewat di depan kiosnya setiap hari. Ada suami istri yang sedang berdebat hebat. Ada pencopet yang sedang mengintai mangsanya. Ada peminta-minta yang tampak sehat, tapi begitu memelas. Ada pembeli yang memaksa menawar dagangannya. Ada pembeli yang langsung membeli dagangannya tanpa basa-basi. Ada pembeli yang cermat memilih barang dagangannya. Ada pembeli yang tidak peduli dengan asal memilih barang. Ada pembeli yang menggerutu karena harga mahal. Semua itu tanpa disadari sebenarnya cermin bagi sang pedagang.

Sifat orang akan bermanfaat sebagai cermin jika kita mengenakan ukuran-ukuran sifat itu kepada diri kita sendiri. Misalnya, jika kita melihat seseorang menunjukkan kesombongannya, lantas diri kita hanya bisa berkata, “Ah, sombong betul orang itu,” atau kemudian apakah keadaan sombong itu kita kembalikan kepada diri kita? Tentulah tidak ada gunanya apabila kita hanya mengatakan bahwa “Orang itu sombong”. Yang akan bermanfaat bagi kita adalah jika kesombongan yang terjadi di dalam diri orang lain itu kita kendalikan agar kita tidak menjadi sombong.

Sebenarnyalah perilaku orang-orang di sekitar kita bisa menjadi percepatan pembelajaran bagi kita untuk membersihkan hati. Kita menjadikan hidup ini lebih efektif dengan mempelajari perilaku orang-orang di sekitar kita untuk memperbaiki diri, bahkan hal ini lebih efektif daripada sekadar membaca buku tentang pengembangan diri yang lebih banyak dimuati teori. Misalnya, ada orang yang kata-katanya gampang menyakiti orang lain. Hidup kita akan menjadi efektif jika kita tidak memberikan komentar atas orang itu dan kita berupaya saja terhindar agar tidak menjadi orang seperti itu. Wallahuaalam.***

Dikutip dari Pikiran Rakyat, Kamis 14 April 2005

Menerima untuk memiliki

August 22, 2007 by zankies

21 Agustus 2007 16:15 WIB

Gilaaaaaaa…..ga tahu apa yang ada di pikiranku saat ini. Serasa dunia menertawakanku, bagaikan orang paling bodoh sedunia..kenapa aku harus menerima kenyataan sepahit ini.Apakah ini takdir yang harus aku terima..kemana aku akan mengeluh, kemana aku akan bercerita.Sungguh kenyataan yang sangat menyakitkan…cobaan apalagi yang harus aku hadapi untuk menempuh semua ini. Klo memang benar ini takdirku, aku akan terima dengan ikhlas..Tapi sangat berat untuk dapat menerima semua itu, laki2 dimanapun dia berada.Apakah sekejam ini balasan yang harus aku terima untuk menjalani hidup didunia. Aku yakin dikemudian hari aku akan menemukan jalan yang lebih baik dari ini semua.Aku yakin…dan aku harus berusaha untuk menemukan jalan itu. Jalan yang seharusnya aku berpijak…

Sakit hati karena caci maki??

August 22, 2007 by zankies

21 Agustus 2007 07:15 WIB

Pagi yang kurang indah buatku, awalnya emang cuman mc tapi setelah itu dibarengi dengan sms. Aku baca dan isinya bikin nek…..apa iya aku seburuk yang di sms itu….Caci maki, hujatan demi hujatan aku terima. Kadang aku ga habis pikir…dimana letak kesalahanku, apa aku sejahat itu..Tapi aku ga balas semua itu, biarlah kata2 itu membuat aku mencari kebenaran yang sesungguhnya. Sekejam itukah aku, sejahat itukah aku, seberngsek itukah aku…kadang sakit hati emang bikin orang gelap mata, tidak bisa membedakan antara baik dan buruk. Dimana kesalahanku?????????klopun aku salah….aku minta maaf…..

Ga ada liga inggris di akhir pekan

August 15, 2007 by zankies

Liga Inggris musim 2007 - 2008 emang bisa dipastikan bakal seru…tapi….ga bisa setiap orang nnton…gara2nya ya itu….si Astro yang punya hak siar satu2nya buat nyiarin Liga Inggris, stasiun televisi yang lain….lewaaattttt….:(. Waduh…gimana mau nnton abis ga gratis sih…

Bagi orang yang udah langganan Indovision sama aja keliatany…ga bisa juga. Karena emang hak siar itu udah dibeli penuh oleh Astro alias MONOPOLY bangeettttt.

Menurut hitung-hitungan yang dilakukan oleh Tabloid BOLA, Astro diperkirakan menggelontorkan uang sebanyak US$50juta untuk mendapatkan hak siar selama tiga musim kompetisi. Kalau dirupiahkan dengan asumsi bahwa satu dollar adalah Rp.10.000,- maka Astro membayar Rp.500milyar untuk masa tiga musim itu. Apakah ini sepadan?

Mari kita lakukan hitung-hitungan sederhana. Jika diasumsikan bahwa jumlah pelanggan Astro sebanyak 80.000 orang, maka dalam satu bulan perusahaan penyiaran berbasis di Malaysia ini akan meraih Rp.16 milyar. Ini diasumsikan jika semua pelanggannya membayar Rp.200.000,- (paket awal Rp.150.000, ditambah paket sport Rp.50.000,-). Artinya, dalam satu tahun Astro sudah mengantongi Rp.192milyar atau Rp.576milyar untuk masa selama tiga tahun. Ingat, hitungan ini mengasumsikan bahwa pelanggan Astro hanya 80.000 orang dan tidak bertambah selama tiga tahun mendatang. Tentu saja angka keuntungan Astro akan semakin menggelembung jika pelanggannya bertambah dalam tiga tahun ini mengingat hak eksklusif penayangan Liga Inggris selama tiga musim ini.

Terus giman donk….langganan???mahal kali yeee…..